[REVIEW BUKU] The Lost Memories (Cindyana H)

"Romance Gulali", Awas Diabetes!

Oke, ada alasan kenapa aku me-review buku ini walau istilahnya sudah "kedaluwarsa". Singkatnya, aku suka. Itulah kenapa kubuat review-nya. Nah. Masalah selesai.

Romance itu nggak selamanya "serius", dalam artian nggak semua cerita romance harus ada ini, itu, sini, sana, begini, begitu, dan hal-hal yang umum terlahir di dunia romansa. Kalaupun genre romance adalah genre +17 atau +18 atau yang paling high level itu +21--ah yaudahlah kita yang masih di bawah umur nggak usah ngehalu ke mana-mana ya, wkwkwk--tapi bagaimana kalau umurmu masih di bawah itu dan sukanya yang manis-manis?

Nah, buku yang akan kubahas kali ini adalah salah satu dari beberapa karya Kak Cindyana--yang kerap kali disapa Kak Cin--yang nggak pernah lepas dari yang namanya "gulali".


Judul buku: The Lost Memories
Penulis: Cindyana H
Editor: Chintia Frastica
Layout: Ahda Ikrima
Desain sampul: Philia Fate
Penerbit: Grass Media
Tahun terbit: Cetakan Pertama, Desember 2018
Harga: Rp99.400
ISBN: 978-602-52344-8-4
Blurb:

"Kenangan adalah hal yang indah bagi manusia."

Namun, makhluk-makhluk dari Dimensi Guardian tak akan pernah membiarkan ingatan para manusia utuh saat manusia tak sengaja melihat wujud asli mereka yang bersayap.

Celine, masuk dalam salah satu dari sekian banyak makhluk Dimensi Guardian yang menetap di Dimensi Manusia. Alasannya satu: agar merasa dekat dengan manusia. Lagipula, manusia tak seburuk yang dikisahkan para tetua di dimensinya. Tapi sesuatu terjadi, Celine, sang guardian jatuh hati dengan seorang manusia!

Tepat saat Celine menyamar sebagai siswi SMP di satu sekolah, ia tak mampu berdamai dengan logikanya saat harus berteman dengan Arville.

Namun, apakah Celine sanggup saat ingatan Arville tentangnya dihapus oleh Guardian Ingatan? Belum lagi sangkar emas yang disediakan untuknya sebagai hukuman.

Bolehkah Celine berharap agar dia dan Arville bisa menjadi sepasang kekasih?

[].[].[]

Jujur, sih, ya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku nggak pernah minat baca romance. Kenapa? Jelas karena efeknya bikin ngehalu melulu. :v

Hayo yang sering ngehalu setiap baca romance? Mana tanganmu? :3

Ini tentang Celine, si Guardian dunia sana, yang memiliki sebuah perasaan terlarang kepada Arville, seorang pemuda biasa dari bumi. Celine yang semula hanya mendengar bahwa manusia itu serakah, kini melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa manusia justru tampak unik. Terlebih lagi pertemuannya dengan Arville, di lantai tiga gedung sekolah yang sudah beralih fungsi menjadi gudang meja dan kursi yang rusak. Pertemanannya dengan laki-laki itu bagaikan ombak, terkadang berada di posisi terbaik, terkadang pula harus diributkan.

Yang nyaman itu yang menang, banyak yang bilang begitu--dan tampaknya Celine sudah nyaman dengan keberadaan Arville yang auranya selalu tampak putih bagaikan seorang bayi baru lahir. Walau kenyamanan itu membuat logika Celine jungkir balik, keluarganya serta Charlos--guardian yang tak lama lagi akan "memilihnya" ketika Celine sudah delapan belas--seringkali memberinya peringatan.

Namun, apalah daya bila peringatan itu dikaitkan dengan cinta. Semua orang pasti dibutakan.

Arville yang humoris, polos, sopan, dan tidak berani asal bertindak kepada perempuan juga merasakan kenyamanan yang sama. Dia bahkan bisa merasakan kenyamanan itu meski hanya lewat pemandangan rambut dan bahu Celine dari belakang. Karena Arville tahu bahwa Celine berbeda.

Celine tahu bahwa rasa nyaman dan sukanya pada Arville adalah bencana. Dia tahu itu sejak awal. Dan Celine tidak pernah repot-repot memikirkan cara mencegahnya. Terlalu nyaman dengan Arville, Celine hampir tidak menganggap Charlos yang berusaha mati-matian mencuri hatinya. Selain itu, Celine juga mendengar kisah seorang Guardian Maut terkuat jatuh hati kepada seorang manusia. Apa pun dilakukannya demi wanita yang dikasihinya. Tanpa ada yang tahu bagaimana akhir nasib sang Guardian Maut Terkuat dengan kekasih manusianya.

Itulah kenapa Celine merasakan adanya sebuah kesempatan.

Tapi bagaimana kalau kesempatan yang dia anggap ada justru menjadi bencana?

Inilah yang membuatku me-review buku ini. Kisahnya menggemaskan dan nggak kalah sering bikin pembaca ikut deg-deg-an..

Jadilah orang hebat--orang yang menghargai karya orang lain tanpa curi-curi pandang (ehm, ini maksudnya kalau kalian asal loncat-loncat bab, kalian yang rugi :v). Kalau kalian cerdas, kalian pasti udah bisa meraba-raba kira-kira bagaimana jalan ceritanya, konfliknya, bahkan ending-nya. Tapi, kalau kalian pintar, berarti kalian minum Tolak Udara. /slap

Intinya, amat sangat tidak direkomendasikan untuk main loncat papan indah dari satu bab ke bab yang lain. Karena kebiasaan buruk ini bisa merusak citra isi buku. /eeeaaa/ /diguyur paus/

Celine yang pedas, cuek, egois, dan sedikit ... naif (?) berhasil membuat pembaca gemas dengan tindakan-tindakan dan isi pikirannya. Dilengkapi dengan Arville yang polos, manis, adem, tapi lama pekanya sama perasaan sendiri (lalu aku ditampar sirip paus) membuat novel ini semakin ... hmm ... apa, ya? Manis? Bergula? Yah, pastinya, bisa membuat para jomblowati terserang diabetes.

Hmm ..., aku juga suka orang tuanya Arville. Mereka humoris parah. Ya ampun, sekeluarga sama aja menggemaskannya. Arville jelas-jelas hibrida dari keduanya. :)

Di kata pengantar, Kak Cin mengatakan bahwa jenis novel ini adalah romance. Dan tenang saja, bagi kalian yang selalu beranggapan bahwa romance selalu "berat" untuk anak-anak (?), percayalah bahwa romance yang diciptakan Kak Cin amat jauh dari kata definisi padanan kata itu sendiri. Mungkin lebih pas kalau di depannya ditambah dengan "minor", "little", atau "fluffy" karena kelihaian Kak Cin dalam romance emang top dalam hal gula-gula. :)

Keunikan buku ini terletak pada gaya penulisan babnya. Dua chapter di awal, diselingi chapter minus sebagai flashback, kemudian berlanjut lagi chapter ketiga sampai seterusnya. Asyik, deh, bacanya. Ketika masih di Wattpad, kuingat banget Kak Cin tulis di Author's Note-nya kayak gini:

"Setelah chapter ini, balik lagi ke chapter satu, habis itu langsung lanjut ke chapter tiga (atau empat?). Wkwkwk, pusing, ya? Maaplaah...."

Nggak, nggak, nggak. Paus--eh, Kak Cin ndak salah apa-apa. Justru di sini poin plus dari TLM, menurutku. Bacanya jadi asyik. Muter-muter (karena aku suka yang bikin otak muter-muter :v).

Dibandingkan dengan LMP (Little Magacal Piya) yang merupakan anak pertama Kak Cin, TLM (The Lost Memories) sudah tergolong jauh lebih rapi. Mulai dari susunan kepenulisan, kerapian paragraf, diksinya oke, typo juga jarang terlihat. Hanya satu-dua penggunaan imbuhan di- yang masih tertukar. Oh, iya, bahasanya juga ringan. Saking ringannya, nggak ada lagi dialog lokal berupa "gue" dan "lo" yang bikin--yah, aku mah jujur ya--eneg karena nggak enak dilihat (tapi enak dilafalkan :v).

Sayangnya, dalam gaya bahasa masih sedikit labil. Ada yang murni baku sekalimat, ada yang santai, terkadang ada juga yang terlalu santai.

Untungnya, semua kelabilan itu berada pada kondisi yang sesuai. Sehingga pembaca nggak perlu berjengit atau mengerutkan dahi karena gaya bahasanya sedikit janggal.

Nah, jadi disebutnya apaan, tuh? Kelebihan atau kekurangan? :v 

Bagi kamu yang mau baca tapi baru lihat ketebalan bukunya aja udah emoh, percayalah, isinya sama sekali tidak mengecewakan (yah, kecuali bagi kalian yang gondok dengan adanya plot twist). Alhamdulillah, halamannya nggak bermasalah. Sudah lebih enak dilihat ketimbang anak pertamanya (baca: LMP). Mengingat bahwa jumlah halaman LMP itu banyak banget dan kayaknya perlu dilahirkan lagi sekuelnya.

Oh, ya, insyaa Allah kapan-kapan akan ku-review pula Piya dan kawan-kawan.

Kapan?

Entar. Kalo bukunya udah balik dari pinjaman teman selama kurang-lebih setahun. /lirik si peminjam/

Thanks to rasa kepo-ku yang udah bikin diriku ini keasyikan nge-stalk akun Wattpad-nya Kak Cin, akhirnya kubaca setiap work punya Kak Cin. Semua. Benar-benar semuanya. Auto jatuh hati sama jenis tulisannya Kak Cin yang selalu menghadirkan gulali di mana-mana--haha. Dan sekarang masih menunggu yang on-going bahkan menunggu kabar baik tentang lahirnya sekuel Piya.

... udah denger desas-desus? "Adik"nya Piya mau lahir tahun ini, lho. Yeay! Aamiin!

Pertama kali kutemukan cerita ini di lapak Wattpad-nya Kak Cin. Udah komplit, tapi masih berantakan (?)--HWAH JADI GINI RASANYA KEBAHAGIAAN AKIBAT NGE-STALK AKUN ORANG--dan kulangsung jatuh hati sama semua karyanya. Dari sampul buku udah kelihatan betapa imutnya cerita ini selama banyak bab ke depan. Overall, makna snowglobe yang menjadi ikon sampul bukunya juga memiliki makna dalam bagi ceritanya. Bagi kamu yang suka gula-gula, dijamin nggak menyesal baca buku ini!

Penasaran apa hubungan snowglobe dengan kisah Celine dan Arville? Lalu bagaimana pula akhir dari sebuah "cinta terlarang"?

Just grab it from the nearest bookstore! Tersebar luar di Gramedia, kok. Hihi.

Selamat membaca!

Komentar

  1. hai,kak cindyana,
    aku sangat tertarik dengan novel kak.
    semua yang kakak buat bersifat fantasic
    tolong dipertimbangkan lagi ya kak
    nama ku graciela a.h.aku sekolah di smp kalam kudus 1 batam,kls 8

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer